Apa itu WFH? Simak pengertian, sejarah, asal usul, hingga alasan di balik maraknya tren kerja dari rumah (Work From Home) di Indonesia dan dunia.
Istilah WFH sudah jadi bagian dari kosakata dunia kerja sehari-hari, terutama sejak pandemi COVID-19. Tapi sebenarnya, apa itu WFH, dari mana istilah ini berasal, dan kenapa sampai sekarang makin banyak perusahaan—termasuk yang mempekerjakan tim lintas kota bahkan lintas negara—yang tetap mempertahankannya? Artikel ini akan mengupas tuntas pengertian, sejarah, dan alasan di balik maraknya tren kerja dari rumah, sekaligus gambaran tren terbaru yang perlu kamu tahu sebelum mencari lowongan kerja WFH.
Apa Itu WFH?
WFH (Work From Home) adalah sistem kerja di mana karyawan menyelesaikan tugas-tugas pekerjaannya dari rumah atau lokasi lain di luar kantor, alih-alih datang ke kantor fisik setiap hari. WFH merupakan salah satu bentuk dari konsep yang lebih luas bernama remote work atau kerja jarak jauh, yang memungkinkan karyawan bekerja dari mana saja selama terhubung dengan internet dan alat komunikasi digital seperti email, video call, dan aplikasi manajemen proyek.
Di Indonesia, istilah WFH sering dipakai bergantian dengan “kerja remote”, “kerja daring”, atau “kerja dari mana saja” (work from anywhere/WFA). Meski begitu, secara teknis WFH lebih spesifik merujuk pada bekerja dari rumah, sedangkan WFA mencakup lokasi yang lebih fleksibel seperti coworking space, kafe, atau bahkan luar kota.
Asal Usul Istilah dan Konsep WFH
Konsep kerja dari rumah sebenarnya bukan hal baru. Berikut adalah beberapa titik penting dalam perjalanan sejarah WFH:
1. Cikal Bakal di Era 1970-an: “Telecommuting”
Istilah yang lebih dulu dikenal sebelum WFH adalah telecommuting, yang dicetuskan oleh fisikawan NASA bernama Jack Nilles pada awal 1970-an. Saat itu, Nilles mengusulkan agar sebagian pekerja tidak perlu bepergian ke kantor pusat, melainkan cukup terhubung lewat jalur telekomunikasi—krisis energi dan kemacetan lalu lintas di Amerika Serikat menjadi pemicu utamanya. Konsep ini masih sangat terbatas karena teknologi pendukungnya, seperti komputer pribadi dan internet, belum ada.
2. Perkembangan Teknologi di Era 1990–2000-an
Masuknya komputer pribadi, email, dan internet ke rumah-rumah membuat telecommuting makin memungkinkan. Beberapa perusahaan teknologi mulai menguji coba kebijakan kerja fleksibel, meski jumlahnya masih sangat kecil dibanding total angkatan kerja.
3. Ledakan Startup dan Budaya Digital Nomad (2010-an)
Perkembangan cloud computing, aplikasi kolaborasi seperti Slack dan Google Workspace, serta menjamurnya startup teknologi membuat semakin banyak pekerjaan—khususnya di bidang IT, desain, dan penulisan—bisa dilakukan dari jarak jauh. Muncul juga istilah “digital nomad” untuk pekerja yang berpindah-pindah lokasi sambil tetap produktif secara online.
4. Titik Balik: Pandemi COVID-19 (2020)
Titik paling menentukan dalam sejarah WFH adalah pandemi COVID-19 yang melanda dunia pada awal 2020. Kebijakan lockdown dan pembatasan sosial memaksa jutaan perusahaan di seluruh dunia—termasuk di Indonesia—untuk memindahkan operasional kerja ke rumah masing-masing karyawan secara mendadak. Data dari riset WFH Research (Stanford) mencatat lonjakan drastis: <cite index=”4-2″>sebelum pandemi hanya sekitar 5–7% hari kerja berbayar di AS yang dilakukan dari rumah, namun selama lockdown 2020 angka itu melonjak hingga sekitar 60%</cite>. Dari sinilah istilah WFH benar-benar populer dan dipakai luas oleh masyarakat umum, bukan hanya kalangan profesional teknologi.
Kenapa WFH Semakin Marak Sampai Sekarang?
Setelah pandemi mereda, banyak yang memprediksi WFH akan kembali ke level sebelum 2020. Nyatanya, tren ini tidak hilang, melainkan “menetap” di level yang jauh lebih tinggi dibanding sebelum pandemi. Beberapa alasan utamanya:
1. Produktivitas Terbukti Tidak Menurun
Berbagai riset menunjukkan kerja remote tidak menurunkan output karyawan. <cite index=”8-2″>Studi Biro Statistik Tenaga Kerja AS menemukan hubungan positif antara kenaikan adopsi kerja remote dan pertumbuhan produktivitas total faktor lintas industri</cite>, bahkan setelah memperhitungkan tren sebelum pandemi. Riset lain juga menunjukkan tim hybrid yang dikelola dengan baik bisa bekerja setara atau lebih baik dibanding tim yang sepenuhnya di kantor.
2. Preferensi Karyawan yang Kuat
Karyawan modern menempatkan fleksibilitas kerja sebagai prioritas tinggi—bahkan di beberapa survei, fleksibilitas dinilai lebih penting daripada gaji. Banyak pekerja rela mengorbankan sebagian kompensasi demi mempertahankan opsi kerja remote atau hybrid.
3. Efisiensi Biaya bagi Perusahaan
Perusahaan bisa menghemat biaya operasional signifikan—mulai dari sewa kantor, listrik, hingga fasilitas—dengan mengurangi kebutuhan ruang kerja fisik untuk seluruh karyawan.
4. Kemajuan Teknologi Kolaborasi dan AI
Alat kolaborasi seperti video conference, cloud storage, project management tools, hingga AI asisten kerja membuat koordinasi tim jarak jauh menjadi jauh lebih mudah dibanding satu dekade lalu.
5. Akses Talenta Tanpa Batas Geografis
Perusahaan tidak lagi dibatasi lokasi kantor untuk merekrut talenta terbaik. Sebaliknya, pekerja pun bisa melamar ke perusahaan di kota atau negara lain tanpa harus pindah domisili—inilah yang membuat platform pencarian lowongan kerja WFH seperti lokerwfh.id semakin dibutuhkan.
WFH vs Hybrid vs WFA: Apa Bedanya?
Agar tidak salah kaprah, berikut perbedaan singkatnya:
| Istilah | Pengertian |
|---|---|
| WFH (Work From Home) | Bekerja penuh dari rumah, tanpa kewajiban ke kantor |
| Hybrid | Kombinasi kerja dari kantor dan dari rumah dalam jadwal tertentu (misalnya 2–3 hari kantor, sisanya WFH) |
| WFA (Work From Anywhere) | Bekerja dari lokasi mana pun, tidak terbatas rumah—bisa kafe, coworking space, atau luar kota |
| Remote Work | Istilah payung yang mencakup WFH, WFA, dan segala bentuk kerja jarak jauh lainnya |
Manfaat WFH bagi Karyawan dan Perusahaan
- Menghemat waktu dan biaya transportasi karena tidak perlu commuting ke kantor
- Fleksibilitas waktu untuk mengatur ritme kerja sesuai produktivitas pribadi
- Work-life balance yang lebih baik, terutama bagi karyawan dengan anak atau tanggung jawab keluarga
- Jangkauan lowongan kerja lebih luas, tidak terbatas domisili
- Efisiensi biaya operasional bagi perusahaan
- Retensi karyawan lebih tinggi, karena fleksibilitas kerja jadi salah satu faktor utama karyawan bertahan di sebuah perusahaan
Tantangan yang Perlu Diwaspadai
WFH bukan tanpa tantangan. Beberapa hal yang perlu diantisipasi:
- Batas kerja dan waktu pribadi jadi kabur, berisiko menyebabkan burnout
- Rasa terisolasi karena minimnya interaksi tatap muka dengan rekan kerja
- Godaan distraksi di rumah, mulai dari pekerjaan rumah tangga hingga media sosial
- Kebutuhan disiplin diri dan manajemen waktu yang lebih tinggi dibanding kerja di kantor
- Ketergantungan pada koneksi internet dan perangkat kerja yang memadai
WFH di Indonesia: Bagaimana Perkembangannya?
Di Indonesia, tren WFH juga mengikuti pola global: melonjak drastis saat pandemi, lalu berangsur menetap dalam bentuk hybrid maupun WFH penuh setelah situasi normal kembali. Sektor-sektor seperti teknologi informasi, digital marketing, customer service, penulisan konten, desain grafis, hingga layanan keuangan menjadi yang paling banyak membuka posisi WFH atau remote. Semakin banyak perusahaan rintisan (startup) maupun perusahaan multinasional yang membuka posisi remote untuk talenta Indonesia, baik untuk klien lokal maupun luar negeri.
Kesimpulan
Jadi, apa itu WFH? Secara sederhana, WFH adalah sistem kerja dari rumah yang awalnya dicetuskan sebagai konsep “telecommuting” di era 1970-an, berkembang pesat berkat kemajuan teknologi digital, dan akhirnya meledak menjadi standar baru dunia kerja sejak pandemi COVID-19 tahun 2020. Tren ini bertahan hingga sekarang karena terbukti tidak menurunkan produktivitas, disukai karyawan, hemat biaya bagi perusahaan, dan didukung teknologi kolaborasi yang semakin canggih.
Jika kamu tertarik memulai atau melanjutkan karier dengan sistem kerja fleksibel ini, kamu bisa mulai menjelajahi berbagai lowongan kerja WFH terbaru dan terpercaya langsung di lokerwfh.id.